Karya Saut M.H.S Al-Banna

Hai
kawan….

Aku
ingin bertanya padamu?

Siapa
mereka?

Apakah
kau tahu siapa mereka?

Akan
beritahukan padamu!!

Mereka
adalah saudara-saudara kita

Rakyat
Palestina pemilik sah negeri itu

Mereka
ditindas,dibantai,dihancurkan oleh syetan-syetan Zionis itu

Ayah-ayah
mereka dibantai didepan anaknya-anaknya

Ibu-ibu
dan putri mereka diperkosa bak binatang

Jeritan
tangisan bayi-bayi mereka tak menjadi belas kasihan oleh zionis itu

Lalu

Rumah-rumah
mereka di luluhlantakkan

Kebun-kebun
mereka dinjak-injak

Sumur-sumur
mereka diracuni

Di
tanah suci itu

Tanah
para Syuhada

Oleh
Zionis Yahudi Laknatullah itu

Dan
kau tau siapa lagi itu?

Kalau
kau tak tahu biar kuberitahu!!!

Mereka
itu Zionis,Yahudi Sang Penjajah

Ya
betul merekalah pelaku kejahatan itu

Mereka
hina Al-Qur’an

Mereka
Jajah kiblatnya para nabi itu

Karena
mereka adalah Yahudi

Jahat,perampok,keji,syetan,iblis

Ya
itulah mereka

Mata
mereka adalah mata Iblis

Tangan
mereka adalah tangan iblis

Kaki
mereka adalah kaki iblis

Dan
nafas mereka juga nafas Iblis

Lalu………

Zionis
itu berkata

Hai
Palestina aku tak peduli tangismu

Menangislah
karena aku yahudi

Sudahku
dapatkan negerimu walau dengan kelicikan

Aku
adalah

Penjajah
negeri mu

Kenapa

Karena
aku tak pumya negri dan ku Jajah Negrimu!!!!!

Aku
tak peduli denganmu

Walaupun
Tuhanmu telah melaknat aku

Aku
tak akan mau damai denganmu

Kau
tahu kenapa karena aku

Yahudi

Dan
Palestina Pun berkata

Hai
Zionis aku tak takut padamu

Kau
tahu

Akanku
kirim pemuda-pemuda yag rela mati demi Allah

Walau
mereka mati tetapi mereka akan Syahid

Aku
tak takut dengan tank-tankmu,Pesawat tempurmu

Apapun
yang kau bawa

Aku
tak takut padamu walau tak ada yang membantuku

Walaupun
dunia tak peduli padaku

Walaupun
saudar-saudaraku diam di belahan bumi sana

Karena
Allah tlah menjanjikan..

Kau
pasti binasa

Wahai
kau Yahudi!!!!!!!!!!!!



Kepada gadis Palestin itu kuserahkan bunga
Ia tak bertanya, dari mana gerangan kuperolah kuntum lili itu
Ia terlalu tenggelam dalam perasaan yang megah
Seolah dunia memandangnya dengan mata berbinar
Sejenak terlupa, angin tetap mengirim debu
Pada antero derita yang ditanggungnya

Pipinya merah dadu
Sebuah paras yang luput dari lukisan perang
Bibirnya terbasuh kesumba
Oleh gemetar kata-kata yang hendak diucapkannya

Kepada gadis Palestin itu kuserahkan mahkota
Yang terbuat dari kertas surat kabar, terlampau sederhana
Lalu ia janjikan sebuah pasmina
Yang pernah berbulan-bulan menutupi rambutnya
Seolah aku, dalam tiupan angin kering ini, telah mencium
aroma wangi lehernya yang melekat di ujung rajutannya

Matanya mengandung cahaya
Tentu itu api harapan yang sengaja dinyalakan
Sebelum aku pulang, istirah dari kemelut
Seraya merasa bersalah telah meninggalkannya
Dalam marabahaya

Tapi cinta tetap tumbuh
Seperti lumut yang mendekap batu
Ah, tidak!
Seperti butir pasir yang selalu kembali ke
hamparan gurun


(puisi-puisi ini tampil di majalah AZZIKRA edisi September 2006)

Karya : Habiburrahman Saerozi

Tantangan si Kecil Dorrah Kepada Tentara Israel, Sedetik Sebelum Ajalnya Datang Menjelang

Dengan membusungkan dada,
Dada yang merah menyala
Dengan mengepalkan tangan kanannya,
Tangan yang merah menyala
Ia teriakan sebuah tantangan,
Tantangan yang merah menyala
Kepada seluruh tentara Israel yang durjana
Ayo, tembakan seluruh peluru kalian
Pada dadaku dan dada seluruh anak Palestina
Maka kalian akan kalah bersama keputus asaan
Dan kami akan menang bersama keyakinan!

Doa si Kecil Dorrah Untuk Ariel Sharon Sang Jagal Manusia Sedetik Sebelum Ajalnya Datang Menjelang

Dengan bibir bergetar menahan derita, derita anak-anak Palestina
Ia berdoa untuk Sang Jagal Manusia Ariel Sharon
Aku doakan kau Sharon semoga berumur panjang,
Agar kau dapat terus menyalurkan hobimu
Membunuh anak-anak kecil tanpa dosa
Di mana saja
Tuhan akan membinasakanmu mengutukmu dengan sejadi-jadinya
Kelak di neraka!!


Ketika Seorang Ibu Palestina Melahirkan Anaknya

(Sajak ini ditulis untuk mengenang terbunuhnya Shafia, bocah Palestina
berumur tiga tahun yang ditembak tentara Israel beberapa hari setelah
tertembaknya Muhammad Al Dorrah )

Ketika seorang ibu Palestina melahirkan anaknya
Ia lantunkan suara adzan di telinga kanannya
Dan pangggilan qamat di telinga kirinya
Lantas ia tanamkan sebuah pesan suci dalam hatinya

Anakku, ayo sebut nama Allah,
Cepatlah bangkit, ambillah surgamu, ambillah mahkotamu
Yang dirampas ular bersisik bintang setan bernama Israel durhaka.
Anakku, Ular itu menjijikkan ibumu,
Ular itu menjijikkan seluruh umat manusia
Ular itu meresahkan dunia
Cepat bunuh dia, rajam dia dengan batu-batu neraka.

"Anakku, ayo sebut nama Allah,
Cepatlah bangkit, ambil batu-batu itu
rebutlahlah surgamu, rebutlah mahkotamu
Jangan ragu!!
Jika kau mundur setapak saja
Melawan Israel durjana
Yang telah berabad-abad menjadi musuh Tuhanmu,
Menjadi musuh nabimu,
Menjadi musuh ibumu,
Menjadi musuh ayahmu,
Dan menjadi musuh saudara-saudaramu seluruh umat manusia
Jangan kau sebut aku ini ibumu."

Seketika itu satu juta pahlawan Palestina tercipta
Dengan keberanian luar biasa
Dengan dada merah menyala
Bergerak bersama-sama
Bersenjata batu-batu neraka
Siap melumat Israel durjana sejadi-jadinya
Tanpa sisa.


Cara Orang Palestina Berbuka Puasa

Orang-orang Islam sedunia berbuka puasa
Dengan kurma dan makanan yang lezat lainnya
Tapi orang-orang Palestina berbuka puasa
Dengan batu-batu dan luka-luka yang menganga.


Cara Orang Palestina Berhari Raya

Tiap hari orang Palestina berhari raya
Merayakan gugurnya pahlawan mereka
Bunga-bunga surga
Menemani hari-hari mereka


Batalyon Izzuddin El Qassam

Menjiwai ajaran Muhammad
Mewarisi kejantanan Shalahuddin
Memperjuangkan kemerdekaan negeri
Mengumadangkan perdamainan sejati
Tanpa penindasan,
tanpa penjajahan,
tanpa pengusiran,
tanpa penyerobotan tanah air orang lain,
tanpa pemerkosaan,
tanpa teror,
tanpa kepengecutan

Tak pernah menyerah pada musuh
Tak pernah takut pada kematian
Satu lawan satu kalau berani
Atau terserah, kalian Israel, pasti kami hancurkan !
Mati satu tumbuh seribu
Inilah batalyon pilihan
Kebanggaan rakyat Palestina
Yang terus bergerilya, melawan penjajahan
Mengharap kerelaan Tuhan